GUNAKAN SOSMED DENGAN BIJAK

Sumber Gambar

Perkembangan teknologi yang semakin melejit dan pesat tentunya telah banyak mengubah gaya dan pola kehidupan manusia dalam segala bentuk aktifitas seperti interaksi dan komunikasi dengan sesama tidak hanya interaksi tatap muka saja tapi juga interaksi dan komunikasi dengan berbagai sosial media yang tumbuh bak jamur dimusim hujan dewasa ini, seperti Facebook, whatsapp,Line,Wechat dan aplikasi sosmed lainya. Peranan Sosial media bak pisau bermata dua, punya dua sisi positif juga punya sisi negatifnya tergantung bagaimana kita menggunakan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sudah banyak kita lihat di media-media kasus penyalah gunaan data, photo dan privasi lainya disebabkan salah dalam menggunakan sosial media, akibatnya bisa sangat fatal dan merugikan kita sendiri.

Berikut Tip dan trik menggunakan Sosmed dengan Bijak :

1 Jangan terlalu mengumbar Privasi (privasi not for share)

Sumber Gambar

Ada hal-hal yang bisa dibagi kepada khalayak ramai tapi hal-hal yang sifatnya privasi alangkah lebih baiknya tidak perlu di umbar apalagi hal-hal yang sangat prinsipil dan sensitif untuk dibagi kepada orang lain.

2 Jangan terlalu Lebai

Sumber Gambar
Tidak perlu pamer berlebihan yang tidak bermanfaat yang niatnya mendapat pujian malah cibiran dari orang lain namun tidak bisa di pungkiri nafsu manuasia sangatlah tinggi ditambah lagi rasa pengakuan dari orang lain yang membuat rasa ingin pamer manusia tetap tinggi.

3 Angkat konten-konten yang Positif ( Pikiran Bek Lam Rok Hate Be u Arab)

Sumber Gambar

Meneyebarkan energi positif akan membuat pikiran kita ikut positif dan Mengakat konten-konten yang positif mungkin akan bermanfaat bagi pribadi kita moga bermanfaat bagi orang lain yang membacanya

4 Jangan Posting konten-kontek Berbau Sara

Sumber Gambar

Jika tidak ingin berurusan dengan pihak berwajib Jangan pernah memposting status yang berbau sara dan memancing keributan antara sesama penggunan media sosial

5. Selektif memilih Pertemanan (Akun Resmi)

Sumber Gambar

Seletif dalam memilih pertemanan juga bagian dari menjaga keamanan dan kenyaman dalam bersosial media , jangan terlalu peduli dengan orang-orang tidak jelas dan akun-akun bodong.

5+ Unsur- Unsur Perlindungan Hukum Berserta Contoh dan Penjelasannya

Unsur-unsur perlindungan hukum – Hukum adalah sebuah aturan yang berlaku di sebuah negara dengan tujuan untuk melindungi warganya dan menegakkan keadilan. Tujuan utama hukum memang penting untuk melindungi warga negara dari tindakan kriminal atau pelanggaran hukum. Hal ini sesuai dengan sifat hukum yang mengatur aktivitas dan tingkah laku manusia.

Secara umum, macam-macam hukum di Indonesia dapat dibagi menjadi dua, yakni hukum pidana dan hukum perdata. Hukum pidana menekankan pada masalah negara dengan warganya dan berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas secara umum. Sedangkan hukum perdata mengurus permasalahan antar individu dan hanya menyangkut kepentingan perseorangan saja.

Dalam aturan hukum, terdapat banyak proses dan tahapan mulai dari penyelidikan hingga putusan hakim di pengadilan. Tentu pihak-pihak yang terlibat harus diberi perlindungan hukum yang tepat dan sesuai, sehingga hukum yang diberlakukan bisa berjalan jujur, adil dan prosesnya lancar dari awal sampai akhir.

Pada prakteknya, memang banyak celah hukum yang dimanfaatkan untuk melakukan kriminalisasi atau tindak pelanggaran hukum lain. Hal ini membuat banyak rakyat kecil kesusahan jika ingin menempuh jalur hukum. Sebaliknya, di pengadilan, asas praduga tak bersalah juga harus ditegakkan untuk memberi perlindungan hukum.

Unsur-Unsur Perlindungan Hukum
Di bawah ini akan dibahas apa saja unsur-unsur perlindungan hukum di Indonesia beserta contoh dan penjelasannya lengkap.

1. Adanya Perlindungan Pemerintah pada Warganya

Unsur perlindungan hukum yang pertama adalah adanya perlindungan dari pemerintah kepada warganya. Pemerintah berkewajiban untuk memberikan perlindungan hukum kepada warga negaranya, dengan menerapkan sistem peradilan yang jujur dan adil.

2. Adanya Jaminan

Unsur perlindungan hukum berikutnya adalah adanya jaminan bagi pihak yang terlibat dalam perkara hukum. Jaminan yang dimaksud berkaitan dengan kasus hukum yang sedang dijalani oleh tiap warga negara, misalnya seperti penyediaan pengacara, sehingga tiap orang yang terlibat dalam perkara hukum merasa terlindungi.

3. Adanya Kepastian Hukum

Selain adanya jaminan, perlindungan hukum juga harus memiliki unsur kepastian hukum. Artinya suatu kasus hukum tidak dibuat berlarut-larut dan tidak jelas status dari pihak yang terlibat. Kepastian hukum ini penting sehingga tiap orang tidak terjebak dalam status hukum yang tidak pasti.

4. Adanya Sanksi Bagi Pelanggar Hukum

Pemberian sanksi bagi para pelanggar hukum juga termasuk salah satu upaya untuk memberikan perlindungan hukum. Dengan begitu, tiap orang tidak bisa seenaknya membuat pelanggaran hukum, baik hukum pidana atau perdata. Orang jadi akan berpikir untuk membuat tindakan pelanggaran hukum sehingga dapat memberi perlindungan bagi masyarakat luas.

5. Adanya Hak-Hak Warga Negara

Unsur-unsur perlindungan hukum yang terakhir adalah berkaitan dengan hak-hak warga negara. Artinya selama proses hukum, warga negara berhak mendapat hak-haknya mulai dari proses penyelidikan, peradilan hingga putusan hakim. Hal ini meliputi hak mendapat pengacara, hak diperlakukan sama di mata hukum, hak mendapat proses pengadilan yang jujur dan adil, hak mengajukan banding, dan sebagainya.

Demikian informasi artikel mengenai unsur-unsur perlindungan hukum di Indonesia beserta contoh dan penjelasannya lengkap. Semoga bisa menambah wawasan para pembaca.

Konsep dan Arti Penting Perlindungan dan Penegakan Hukum

Menurut Andi Hamzah sebagaimana dikutip oleh Soemardi dalam artikelnya yang berjudul Hukum dan Penegakan Hukum (2007), perlindungan hukum dimaknai sebagai daya upaya yang dilakukan secara sadar oleh setiap orang maupun lembaga pemerintah, swasta yang bertujuan mengusahakan pengamanan, penguasaan dan pemenuhan kesejahteraan hidup sesuai dengan hak-hak asasi yang ada.

Makna tersebut tidak terlepas dari fungsi hukum itu sendiri, yaitu untuk melindungi kepentingan manusia. Dengan kata lain hukum memberikan perlindungan kepada manusia dalam memenuhi berbagai macam kepentingannya, dengan syarat manusia juga harus melindungi kepentingan orang lain.

Dengan demikian, suatu perlindungan dapat dikatakan sebagai perlindungan hukum apabila mengandung unsur-unsur sebagai berikut :

Adanya perlindungan dari pemerintah kepada warganya.
Jaminan kepastian hukum.
Berkaitan dengan hak-hak warganegara.
Adanya sanksi hukuman bagi pihak yang melanggarnya.

Pada hakikatnya setiap orang berhak mendapatkan perlindungan dari hukum. Oleh karena itu, terdapat banyak macam perlindungan hukum. Dari sekian banyak jenis dan macam perlindungan hukum, terdapat beberapa diantaranya yang cukup populer antara lain :

Perlindungan hukum terhadap konsumen. Perlindungan hukum terhadap konsumen ini telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang pengaturannya mencakup segala hal yang menjadi hak dan kewajiban antara produsen dan konsumen.
Perlindungan hukum yang diberikan kepada Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Pengaturan mengenai hak atas kekayaan intelektual meliputi, hak cipta dan hak atas kekayaan industri. Pengaturan mengenai hak atas kekayaan intelektual tersebut telah dituangkan dalam sejumlah peraturan perundang-undangan, seperti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman, dan lain sebagainya.

Perlindungan hukum terhadap tersangka diberikan berkaitan dengan hak-hak tersangka yang harus dipenuhi agar sesuai dengan prosedur pemeriksaan sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan.

Hukum dapat secara efektif menjalankan fungsinya untuk melindungi kepentingan manusia, apabila ditegakkan. Dengan kata lain perlindungan hukum dapat terwujud apabila proses penegakan hukum dilaksanakan. Proses penegakan hukum merupakan salah satu upaya untuk menjadikan hukum sebagai pedoman dalam setiap perilaku masyarakat maupun aparat atau lembaga penegak hukum. Dengan kata lain, penegakan hukum merupakan upaya untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum dalam berbagai macam bidang kehidupan.

Penegakan hukum merupakan syarat terwujudnya perlindungan hukum. Kepentingan setiap orang akan terlindungi apabila hukum yang mengaturnya dilaksanakan baik oleh masyarakat ataupun aparat penegak hukum. Misalnya, perlindungan hukum konsumen akan terwujud, apabila undang-undang perlindungan konsumen dilaksanakan, hak cipta yang dimiliki oleh seseorang juga akan terlindungi apabila ketentuan mengenai hak cipta juga dilaksanakan. Begitu pula dengan kehidupan di sekolah, keluarga dan masyarakat akan tertib, aman dan tenteram apabila norma-norma berlaku di lingkungan tersebut dilaksanakan.

Pentingnya Perlindungan dan Penegakan Hukum

Perlindungan dan penegakan hukum sangat penting dilakukan, karena dapat mewujudkan hal-hal berikut ini:

a. Tegaknya supremasi hukum
Supremasi hukum bermakna bahwa hukum mempunyai kekuasaan mutlak dalam mengatur pergaulan manusia dalam berbagai macam kehidupan. Dengan kata lain, semua tindakan warga negara maupun pemerintahan selalu berlandaskan pada hukum yang berlaku. Tegaknya supremasi hukum tidak akan terwujud apabila aturan-aturan yang berlaku tidak ditegakkan baik oleh masyarakat maupun aparat penegak hukum.

b. Tegaknya keadilan
Tujuan utama hukum adalah mewujudkan keadilan bagi setiap warga negara. Setiap warga negara dapat menikmati haknya dan melaksanakan kewajibannya merupakan wujud dari keadilan tersebut. Hal itu dapat terwujud apabila aturan-aturan ditegakkan.

c. Mewujudkan perdamaian dalam kehidupan di masyarakat

Kehidupan yang diwarnai suasana yang damai merupakan harapan setiap orang. Perdamaian akan terwjud apabila setiap orang merasa dilindungi dalam segala bidang kehidupan. Hal itu akan terwujud apabila aturan-aturan yang berlaku dilaksanakan.

Keberhasilan proses perlindungan dan penegakan hukum tidaklah semata-mata menyangkut ditegakkannya hukum yang berlaku, akan tetapi menurut Soerjono Soekanto (dalam bukunya yang berjudul Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, 2002) sangat tergantung pula dari beberapa faktor, antara lain:
Hukumnya. Dalam hal ini yang dimaksud adalah undang-undang dibuat tidak boleh bertentangan dengan ideologi negara, dan undang-undang dibuat haruslah menurut ketentuan yang mengatur kewenangan pembuatan undangundang sebagaimana diatur dalam Konstitusi negara, serta undang-undang dibuat haruslah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat di mana undang-undang tersebut diberlakukan.
Penegak hukum, yakni pihakpihak yang secara langsung terlibat dalam bidang penegakan hukum. Penegak hukum harus menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan peranannya masing-masing yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Dalam menjalankan tugas tersebut dilakukan dengan mengutamakan keadilan dan profesionalisme, sehingga menjadi panutan masyarakat serta dipercaya oleh semua pihak termasuk semua anggota masyarakat.
Masyarakat, yakni masyarakat lingkungan di mana hukum tersebut berlaku atau diterapkan. Maksudnya warga masyarakat harus mengetahui dan memahami hukum yang berlaku, serta menaati hukum yang berlaku dengan penuh kesadaran akan penting dan perlunya hukum bagi kehidupan masyarakat.
Sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. Sarana atau fasilitas`tersebut mencakup tenaga manusia yang terdidik dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup, dan sebagainya. Ketersediaan sarana dan fasilitas yang memadai merupakan suatu keharusan bagi keberhasilan penegakan hukum.
Kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. Dalam hal ini kebudayaan mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum yang berlaku, nilai-nilai mana merupakan konsepsi-konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik sehingga dianut, dan apa yang dianggap buruk sehingga dihindari.

Cara Membagi Harta Gono-Gini Perceraian

Dalam perceraian ada konsekuensi hukum lain yang pasti harus turut diselesaikan. Salah satunya adalah pembagian harta bersama atau yang dikenal dengan harta gono-gini setelah perceraian tersebut.

Pertama, apa yang menjadi harta gono gini?

Pasal 35 UU Perkawinan membagi harta dalam perkawinan menjadi tiga macam, diantaranya:

Harta Bawaan, yaitu harta yang diperoleh suami atau istri dari sebelum perkawinan. Masing-masing mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta benda bawaannya.
Harta masing-masing suami atau istri yang diperoleh melalui warisan atau hadiah dalam perkawinan. Hak terhadap harta benda ini sepenuhnya ada pada masing-masing suami atau istri.
Harta Bersama atau Gono-gini, yaitu harta yang diperoleh selama perkawinan.

Apakah Semua Harta yang Diperoleh Selama Perkawinan Menjadi Harta Gono-gini?

Hal pertama yang penting untuk diperhatikan ialah Perjanjian Perkawinan. Saat mengurus pembagian harta, Anda harus melihat apakah terdapat perjanjian perkawinan mengenai pemisahan harta benda antara suami dan istri.

Apabila pasangan suami dan isteri memiliki perjanjian perkawinan yang menyatakan memisahkan harta benda mereka, maka tidak ada yang namanya harta bersama. Ketika perceraian terjadi, masing-masing suami atau istri tersebut hanya akan membawa harta yang terdaftar atas nama mereka.

Sebaliknya, apabila tidak ada perjanjian perkawinan, maka pengaturan mengenai harta bersama mengacu pada ketentuan hukum yang berlaku.

Ketentuan Pembagian Harta Gono-gini

Di Indonesia, ketentuan pembagian harta gono-gini baik dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Kompilasi Hukum Islam adalah dibagi ½ dari seluruh harta gono-gini antara suami dan istri.

Namun, pada prakteknya hakim tidak selalu membaginya dengan aturan tersebut. Pembagian juga harus memperhatikan keadaan suami dan istri. Misalnya, harta tersebut kebanyakan diperoleh dari hasil kerja keras istri dan perceraian terjadi karena KDRT yang dilakukan oleh suami. Maka hakim dapat saja memutus pembagian yang lebih adil terhadap istri.

Kemana Pembagian Harta Gono-gini Diajukan?

Perlu diingat bahwa putusan perceraian tidak secara otomatis memutuskan atau menetapkan mengenai pembagian harta gono-gini dalam perkawinan. Pengajuan pembagian harta gono-gini dapat diajukan sesudah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap.

Bagi pasangan suami istri yang perkawinannya dicatatkan ke kantor catatan sipil maka gugatannya diajukan ke Pengadilan Negeri tempat tinggal Tergugat. Sedangkan bagi yang perkawinannya dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA), maka permohonan/gugatan diajukan ke Pengadilan Agama tempat tinggal istri.

Pembagian harta gono-gini juga dapat dilakukan dengan cara membuat perjanjian kesepakatan bersama antara suami dan istri yang dibuat di hadapan Notaris. Notaris akan membantu perhitungan seluruh aset dalam perkawinan meliputi proses-proses yang perlu dilakukan jika ada pemindahan aset dan lain sebagainya.

Apabila tidak ada putusan atau penetapan mengenai pembagian harta gono gini, maka setiap perbuatan hukum terhadap harta benda yang terdaftar atas nama salah satu pihak, harus mendapatkan persetujuan dari mantan suami/istri. Tentu hal ini sangat menyulitkan Anda yang sudah bercerai, sehingga pembagian harta gono-gini setelah perceraian sudah menjadi kewajiban bagi suami istri yang sudah/akan bercerai.

Macam-Macam Riba dalam Ekonomi Islam

Setiap manusia menginginkan harta yang halal, berkah, dan juga bermakna bagi kehidupannya. Harta dalam islam memang bukanlah segala-galanya akan tetapi harta dibutuhkan untuk mendukung misi kehidupan manusia. Namun harta yang berkah dan halal tentunya harus mengikuti aturan yang sesuai dengan rukun islam , rukun iman , Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia.

Salah satu hal yang membuat harta tidak halal adalah adanya riba. Riba hal yang haram dan diharamkan oleh ajaran islam. Bukan saja karena persoalan haram belaka, namun tentunya riba memiliki dampak yang mudharat bagi sosial kemasyarakatan, khsususnya mereka yang kurang mampu.

Hal ini sebagaimana juga disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadist, ” Rasulullah saw melaknat (mengutuk) orang yang makan riba, orang yang berwakil kepadanya, penulisnya dan dua saksinya.” (HR. Muslim)

Dari beberapa pendekatan sejarah islam dan pendapat ulama, riba bermakna bukan saja sebagai penambahan biasa. Pengertian Riba Menurut Islam adalah penambahan pembayaran terhadap orang yang berhutang, dengan kondisi dimana si penghutang tidak mampu melunasi hutangnya sesuai waktu dan jumlah yang ditentukan. Terhadap si penghutang yang tidak mampu melunasi tersebut, kemudian si pemberi pinjaman menambahkan kembali biaya untuk memberatkan pembayaran dari si penghutang.

Berikut adalah penjelasan mengenai riba dan macam-macam riba yang ada.

Larangan Riba dalam Al Quran
Di dalam Al Quran terdapat larangan mengenai riba. Larangan riba di dalam Al-Quran bukan saja berdampak di dalam kehidupan dunia, melainkan juga memiliki balasan kelak di akhirat. Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam ayat-ayat berikut ini.

QS Ali Imran : 130
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertaqwalah kamu kepada allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali-Imran:130)

Di dalam ayat ini Allah melarang orang beriman yang memiliki keyakinan terhadap rukun iman dan rukun islam untuk tidak memakan harta riba apalagi berlipat ganda. Hal ini dijelaskan bahwa meninggalkan riba manusia akan mendapatkan keberuntungan.

QS Al Baqarah : 278
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS Al Baqarah : 278)

Di dalam ayat ini juga dilarang untuk memakan dan menggunakan riba walaupun hal yang sisa, khususnya kepada orang-orang beriman.

QS Al Baqarah : 275
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS Al Baqarah : 275)

Di ayat ini kembali ditegaskan oleh Allah bahwa orang yang memakan riba adalah ahli atau penghuni neraka. Sebagaimana pengertian riba adalah pelipat gandakan yang melilit seseorang dengan tanpa rasa kemanusiaan, padahal orang tersebut juga membutuhkan dan mendapatkan kesulitan.

Jenis Riba Menurut Mazhab Syafiiyah
Mazhab syafiiyah adalah mazhab yang paling banyak dianut oleh umat islam di Indonesia. Berikut adalah penjelasan macam-macam riba menurut Imam Syafii.

Riba Fadhal
Riba Fadhal adalah tambahan yang disyaratkan dalam tukar menukar barang yang sejenis. Jual beli ini disebut juga sebagai barter, tanpa adanya imbalan untuk tambahan tersebut.. Hal ini diperjelas dalam hadist berikut ini.

Rasul SAW bersabda, “Transaksi pertukaran emas dengan emas harus sama takaran, timbangan dan tangan ke tangan (tunai), kelebihannya adalah riba; perak dengan perak harus sama takaran dan timbangan dan tangan ke tangan (tunai), kelebihannya adalah riba; tepung dengan tepung harus sama takaran, timbangan dan tangan ke tangan (tunai), kelebihannya adalah riba; korma dengan korma harus sama takaran,timbangan dan tangan ke tangan (tunai), kelebihannya adalah riba; garam dengan garam harus sama takaran, timbangan dan tangan ke tangan (tunai) kelebihannya adalah riba.” (HR Muslim)

Riba Al Yad
Riba Al Yad adalah riba dalam jual beli atau yang terjadi dalam penukaran. Penukaran tersebut terjadi tanpa adanya kelebihan, namun salah satu pihak yang terlibat meninggalkan akad, sebelum terjadi penyerahan barang atau harga.

Penjelasan mengenai riba terdapat juga dalam hadist dari Rasulullah sebagai berikut:

“Jangan kamu bertransaksi satu dinar dengan dua dinar, satu dirham dengan dua dirham; satu sha dengan dua sha karena aku khawatir akan terjadinya riba (al-rama). Seorang bertanya : wahai Rasul: bagaimana jika seseorang menjual seekor kuda dengan beberapa ekor kuda dan seekor unta dengan beberapa ekor unta? Jawab Nabi SAW “Tidak mengapa, asal dilakukan dengan tangan ke tangan (langsung).”(HR Ahmad dan Thabra­ni).

Riba Nasi’iah
Riba Nasi’ah adalah tambahan yang disebutkan dalam sebuah perjanjian pertukaran barang atau muqayadhah atau barter, sebagai imbalan atas ditundanya suatu pembayaran. Riba jenis ini hukumnya sangat jelas.

Menjauhi Riba Menuai Keberkahan Harta
Ibnu Abbas, menjelaskan bahwa riba yang diharamkan itu hanya riba nasi;ah. Begitupun dengan Usamah bin zaid, Zubair, Ibnu Zubair, dan lain sebagainya, menjelaskan hal yang serupa dengan Ibnu Abbas. Menurut mereka riba nasi’ah adalah kebiasaan dari orang-orang Arab yang jahiliah dan kebiasaan tersebut terjadi ketika memberikan hutang kepada orang lain.

Apabila hutang telah jatuh tempo, mereka akan menawarkan hutang apakah akan dilunasi atau diperpanjang. Jika keputusan peminjam adalah diperpanjang maka modal dan tambahannya akan dilipatgandakan, sehingga berakibat hutang mereka lama kelamaan akan bertambah banyak, terus berbunga dan berbunga yang dapat melilit si peminjam. Bagi mereka yang tidak mampu tentu akan kesulitan untuk membayarnya dan pasti akan semakin mencekik. Apalagi bagi mereka yang dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja masih sangat sulit.

Bagi kita seorang muslim yang memiliki misi sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam maka wajib untuk menghindari riba sesuai dengan perintah Allah SWT.

Hukum Rentenir Dalam Islam Dalilnya

Zaman semakin maju, dan kebutuhan ekonomi masyarakat pun semakin meningkat. Memang setiap orang dituntut usaha dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, terkadang dengan begitu banyaknya kebutuhan dan gaji atau upah yang didapat sangat pas-pasan kebutuhan pun tidak tercukupi.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi atau menutupi kekurangan tersebut seperti meminjam uang ke bank misalnya. Bagi orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan, mudah saja untuk melakukan pinjaman ke bank, lalu bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya di daerah pedesaan?

Jalan yang akan mereka pilih satu-satunya mungkin dengan meminjam uang kepada seorang weeks agorentenir. Sebelum memutuskan untuk meminjam ,alangkah baiknya mengetahui hukum riba dalam islam terlebih dahulu agar anda bisa berpikir ulang.

Berdasarkan sedikit pemaparan di atas, maka dalam artikel kali ini yang akan kita bahas yaitu mengenai hukum rentenir dalam Islam. Selain itu anda juga wajib tau cara menghindari riba. Untuk selengkapnya, silahkan simak penjelasan mengenai rentenir di bawah ini.

1Pengertian Rentenir

Menurut wikipedia rentenir atau sering juga disebut tengkulak (terutama di pedesaan) merupakan orang yang memberi pinjaman uang tidak resmi atau resmi dengan bunga tinggi.

Pinjaman melalui rentenir tidak diberikan melalui badan resmi seperti bank, dan apabila si peminjam tidak mampu membayar maka sang rentenir akan mengirimkan bodyguardnya untuk menagih dengan mempermalukan si peminjam bahkan memukuli atau menganiayanya.

Rentenir dalam Pandangan Islam
Pada zaman yang semakin modern ini, yang diherankan justru praktek-praktek renten atau riba malah semakin marak. Bagaimana tidak? Dapat dilihat dari begitu banyaknya korban yang berjatuhan karena praktek rentenir tersebut.

Dampak negatif dari praktek rentenir ini begitu banyak dan sangat membahayakan untuk itu Islam menghimbau ummatnya untuk berwaspada karena Allah Subahanu Wa Ta’ala dengan jelas sangat melarangnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 275 yang artinya:

“ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah [2] : 275)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam juga bersabda yang artinya:

“ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam melaknat pemakan riba rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba. Kata Beliau, ‘ semuanya sama dalam dosa’.” (HR Muslim no. 1598)

Bahkan tentang dosa riba ini pun tidak tanggung-tanggung, Rasulullah menetapkan dengan tegas dosa dan bahaya riba tidak ada bedanya dengan dosa membunuh manusia karena dengan menjalankan riba maka akan menyebabkan adanya kerusakan dunia dan akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah:

“ Jauhilah olehmu tujuh perkara yang merusak”. Para sahabat bertanya: “ Wahai Rasulullah, apa saja tujuh perkara itu?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam menjawab: “ Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa dengan tidak ada alasan hak-hak, memakan hasil riba, memakan harta anak yatim, lari dari ajang pertempuran melawan musuh agama dan menuduh berbuat zina wanita-wanita mukmin yang terpelihara kehormatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Pengertian Riba atau Renten
Menurut bahasa, riba dapat di artikan ke dalam beberapa definisi, karena pada dasarnya pengertian riba menurut islam sendiri di masyarakat lebih dikenal dengan renten. Berikut ini pengertiannya :

Menambah, karena menambahkan seuatu yang telah dipinjamkan atau dihutangkan merupakan salah satu perbuatan dari riba.
Mengembangkan, karena salah satu unsur riba juga yaitu dengan membungakan uang atau benda atas yang dihutangkan atau yang dipinjamkannya kepada orang lain.
Melebihkan, karena praktek riba juga harus melebihkan uang atas yang dipinjamkannya ketika melunasinya.
Adapun menurut para ahli, riba dapat didefinisikan sebagai berikut:

Menurut Syaikh Muhammad Abduh, riba merupakan penambahan-penambahan yang diisyaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada orang yang meminjam hartanya (uangnya), karena pengunduran janji pembayaran oleh peminjam dari waktu yang ditentukan.
Sedangkan menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud riba ialah menolong atau membantu, namun mencari keuntungan dibalik pertolongan tersebut bahkan mencekik dan menghisap darah.
Beberapa tafsir Al-Quran Mengenai Riba
Tafsir yang pertama mengenai riba yaitu terdapat dalam surat Ali-Imran ayat 130
Arti dari ayat tersebut yaitu:

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (QS Ali-Imran [3] : 130)

Tafsir yang kedua berada dalam surat An-Nisa ayat 160-161
Arti dari ayat tersebut yaitu:

“ Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang didahuluinya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesunggunya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.” (QS An-Nisa : 160-161)

Tafsir yang ketiga ada pada surat Ar-Ruum ayat 39
Arti dari ayat ini adalah:

“ Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS Ar-Ruum : 39)

Tafsir yang terakhir ada pada surat Al-Baqarah ayat 275-279
Arti dari ayat tersebut yakni:

“ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala disisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS Al-Baqarah [2] : 275-279)

Dalil-dalil haramnya jika memakan hasil riba
Berikut Dalil tentang haramnya seseorang menggunakan uang hasil riba, antara lain:

Dosa seorang rentenir atau yang memakan hasil riba dosanya lebih buruk dibandingkan dosa seorang pezina
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam:

“ Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Bahkan dapat dikatakan dosa memakan hasil riba bagaikan dosa orang yang telah menzinai orangtua (ibu) kandungnya sendiri
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam:

“ Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR Al hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Dengan maraknya riba maka secara tidak langsung itu merupakan suatu pernyataan dari suatu kaum bahwa mereka mendapatkan hak dan layak di adzab oleh Allah Ta’ala
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:

“ Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk di adzab Allah.” ( HR Al Hakim)

Dampak Dari Perbuatan Riba
Dari macam macam riba yang ada di masyarakat pada umumnya dan beredar luas, dampak yang ditimbulkan ialah :

Sangat berbahaya bagi masyarakat serta agama.
Pendapat para ahli ekonomi menyatakan bahwa riba dapat menjadi penyebab utama krisis ekonomi karena dengan membayar bunga pinjaman dengan singkat.
Mendapatkan dosa yang setimpal setara dengan meniduri ibu kandungnya sendiri.
Akan mendapatkan laknat pada hari akhir atau yaumil qiyamah.
Dari penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan dengan jelas bahwa Allah sangat melarang perbuatan riba atau renten. Dan itu artinya hukum rentenir menurut Islam sangatlah diharamkan. Dan kita sebagai umat Islam semoga dihindarkan dari perbuatan keji tersebut.

Mungkin sekian dulu artikel mengenai hukum rentenir menurut Islam kali ini. Semoga setelah membaca artikel kita pembaca semakin paham mengenai rentenir dan hasil riba yang didapatnya. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penulisan dan terima kasih telah meluangkan waktunya untuk singgah pada artikel kali ini. Terima kasih, Sampai Jumpa!

7 Cara Melunasi Hutang Riba dalam Islam

17 Bahaya Riba dalam Islam

Hukum Meminjam Uang di Bank Syariah

AL-QURAN
Asy-Syu’ara’ (Penyair) Ayat 201-227
لَا يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ Lā yu`minụna bihī ḥattā yarawul-‘ażābal-alīm 201. Mereka tidak akan beriman kepadanya, hingga mereka…

AL-QURAN
Asy-Syu’ara’ (Penyair) Ayat 151-200
ۙ وَلَا تُطِيْعُوْٓا اَمْرَ الْمُسْرِفِيْنَ Wa lā tuṭī’ū amral-musrifīn 151. Dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas, الَّذِيْنَ…

AL-QURAN
Asy-Syu’ara’ (Penyair) Ayat 101-150
وَلَا صَدِيْقٍ حَمِيْمٍ Wa lā ṣadīqin ḥamīm 101. Dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, فَلَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُوْنَ…

AL-QURAN
Asy-Syu’ara’ (Penyair) Ayat 51-100
اِنَّا نَطْمَعُ اَنْ يَّغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطٰيٰنَآ اَنْ كُنَّآ اَوَّلَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ Innā naṭma’u ay yagfira lanā rabbunā khaṭāyānā ang…

AL-QURAN
Al-Qashash (Cerita) Ayat 51-88
۞ وَلَقَدْ وَصَّلْنَا لَهُمُ الْقَوْلَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ۗ Wa laqad waṣṣalnā lahumul-qaula la’allahum yatażakkarụn 51. Dan sungguh, Kami telah menyampaikan…

AL-QURAN
Asy-Syu’ara’ (Penyair) Ayat 1-50
طٰسۤمّۤ Tā sīm mīm 1. Tha Sin Mim تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ Tilka āyātul-kitābil-mubīn 2. Inilah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang…

Awas!Jebakan Pinjaman Rentenir Online,Jangan Cuma Asal Cepat Cair Saja

Zaman digital macam sekarang, mau ngapain saja makin mudah. Mau mengajukan produk perbankan, nggak perlu repot datang ke bank.

Semua bisa dilakukan secara online! Tapi kemudahan itu akhirnya bisa bikin kita malas.

Ya malas survei lah, malas membandingkan lah. Ujung-ujungnya kita menyesali kemalasan kita deh.

Salah satu kemalasan yang bisa bikin kita menyesal adalah malas membandingkan produk pinjaman kredit tanpa agunan (KTA). Saking kepepetnya butuh dana, kita jadi lupa soal bunga dan biaya-biaya lainnya.

Apalagi di tengah kemudahan teknologi online saat ini, banyak pihak yang menawarkan pinjaman dana yang diklaim cepat, mudah dan bersahabat. Tapi tunggu dulu, ‘pihak’ yang dimaksud itu bank atau rentenir ya?

Soalnya sekarang sudah banyak lembaga keuangan online yang nggak berbadan hukum menawarkan pinjaman dana. Yup, nggak cuma orang yang bisa online, lintah darat pun sekarang juga melek teknologi online lho!

Wahh, mesti hati-hati nih! Lantas bagaimana kita mengetahui ciri-ciri rentenir bergaya online ini? Simak ini deh sebelum terjebak dalam labirin utang.

1. Kayak Tukang Sulap
Nggak berlebihan dong kalau kita menyebut rentenir online ini sebagai tukang sulap. Soalnya mereka bisa menyulap sederet syarat ketentuan pengajuan menjadi satu dokumen saja: KTP.

Yup, cuma modal KTP doang bisa cair deh itu pinjaman. Lah, memangnya KTP itu kartu ATM?

Bisa kali nih kita sebut lintah online? (Rupiah / Tstatic)

Bandingkan deh dengan produk KTA milik bank. Biasanya banyak syarat yang dibutuhkan selain KTP seperti NPWP, slip gaji, surat pengangkatan karyawan tetap, kartu kredit dan histori kredit (BI checking).

Syarat-syarat bank tersebut ditetapkan bukan tanpa tujuan. Sesuai dengan prinsip kehati-hatian, dokumen tersebut diperlukan untuk menilai apakah nasabah layak diberikan pinjaman biar nggak terjadi kredit macet.

Nah, kalau modal KTP doang lantas diberikan pinjaman, risiko kredit macet bakal makin gede dong. Akhirnya nasabah juga yang dirugikan.

2. Kayak Sarang Laba-Laba
Ibarat sarang laba-laba yang siap menjebak mangsa, rentenir online juga menebar jaring yang nggak kelihatan. Kalau nggak waspada ya siap-siap dimangsa.

Apa saja nih jebakannya? Salah satunya ya bunga cicilan yang besar.

Bahkan ada rentenir online yang menawarkan bunga 1% per hari! Waduh, kayaknya sih kecil, tapi kalau dihitung-hitung mencekik lho! Coba deh kita lihat:

Pinjaman rentenir online:

Nilai pinjaman: Rp 2 juta

Bunga per hari flat: 1%

Tenor maksimal: 30 hari (1 bulan)

Bunga sebulan: 30% x Rp 2 juta = Rp 600.000

Total pinjaman + bunga: = Rp 2.000.000 + Rp 600.000 = Rp 2.600.000

Coba kita bandingkan dengan produk KTA milik bank DBS:

Nilai pinjaman Rp 20 juta

Bunga per bulan flat: 0,99%

Tenor: 24 bulan (2 tahun)

Bunga selama 2 tahun: 23,76% x Rp 20 juta = Rp 4.752.000

Total pinjaman + bunga = Rp 24.752.000

Memang sih, produk KTA dari bank membebankan biaya administrasi, tapi itu sepadan dengan bunga yang dibebankan. Coba saja bandingkan, rentenir online membebankan 30% per bulan sementara bank cuma 23,76% selama dua tahun.

3. Suka Main Petak Umpet
Tahu kan permainan petak umpet yang sering kita mainkan pas waktu kecil. Nah, rentenir online hobi banget nih main petak umpet padahal usia sudah nggak muda lagi.

Jangan cuma tergiur kemudahan pinjaman, pikirkan juga bunga dan tenor (Menghitung Uang / Metrotvnews)

Kok bisa hobi main petak umpet? Jadi gini, saat kita melihat tawaran pinjaman dana dari rentenir online, biasanya cuma menjual janji manis saja.

Janji manis ini rata-rata berbunyi “pinjaman langsung cair”, “bunga ringan”. Giliran bagian nggak enaknya kayak denda keterlambatan disembunyiin alias nggak transparan.

4. Kayak Siluman
Yang namanya rentenir online jelas nggak melandaskan operasionalnya pada hukum dan undang-undang. Karena nggak mengantongi izin dari pemerintah jadinya ya bebas gentayangan kayak siluman.

Lucunya ada rentenir online yang mengklaim dapat izin dari Kementerian Keuangan. Padahal jelas-jelas Kementerian Keuangan ini nggak punya wewenang mengeluarkan izin dalam bentuk apapun di sektor jasa keuangan.

Semua kegiatan jasa keuangan itu harus terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK inilah yang bertindak sebagai pengawas di lapangan. Jadi bohong banget kalau Kementerian Keuangan turut campur di sektor ini.

Lantas kalau nggak ada peraturan dan perundang-undangan, bagaimana kita bisa terlindung kalau tersandung masalah. Wong setiap kali kena masalah, kita langsung buru-buru mengutip pasal undang-undang buat menuntut atau membenarkan argumentasi kita.

Jadi ya sebenci-bencinya kita dengan pemerintah (yang kadang dituding nggak berpihak pada rakyat), peraturan dan undang-undang itu penting buat melindungi kita. Bener nggak?

Kalau nggak terdaftar di OJK mending balik kanan dan cari jasa keuangan lain (OJK / Penulisweb)

5. Temen Makan Temen
Ngakunya sih temen, tapi kok temen makan temen. Bukannya mau membantu kita keluar dari masalah, eh malah menambah masalah dengan melakukan 4 hal di atas. Kalau begitu caranya bukannya menolong tapi justru bikin amsyong!

Nah, sekarang balik lagi ke diri kita masing-masing. Mau menggunakan kemudahan teknologi digital dengan bijak atau malah membiarkan kita terjebak?

Yang jelas pilihlah sesuatu berdasarkan rasionalitas. Jangan cuma karena kepepet lantas kita mengorbankan masa depan. Jadi tetap berusaha dan waspada ya!

Jangan Sampai Salah Memilih Kredit Tanpa Agunan Lalu Terjebak Rentenir

Apa sih yang terbersit di benak kamu saat mendengar kata rentenir? Pasti konotasi kamu langsung negatif deh. Bukan tanpa alasan sih, bagi banyak masyarakat Indonesia rentenir memang berkaitan dengan kasus keuangan.

Salah satu ciri yang paling identik dengan rentenir adalah penagihan utang yang menggunakan kekerasan. Anehnya, masih banyak saja orang yang mau berurusan dengan lintah darat ini.

Gak bisa dipungkiri ternyata masih banyak orang yang merasa membutuhkan jasa para rentenir dengan beragam alasan. Salah satunya, pinjam duit dari rentenir dianggap lebih simpel ketimbang dari bank. Gak perlu ngasih jaminan, duit udah bisa dibawa pulang.

Eits, tunggu dulu. Minjem duit sih gampang, ngelunasinya tuh yang susah.

Apalagi banyak rentenir yang gak mau ngaku secara terang-terangan bahwa mereka adalah rentenir. Mereka sering berdalih sebagai lembaga pembiayaan yang bisa ngasih kredit tanpa agunan (KTA).

Lagi tenang-tenang jualan bakso eh dicegat, ditagih rentenir, alamak ngeri!

Kamu tahu dong kalau bank menyediakan layanan kredit tanpa agunan (KTA). Bahkan dari bank kita juga bisa meminjam duit hanya dengan modal identitas diri. Jangan khawatir, KTA dari bank gak kalah simpel dengan dari pihak non-bank. Justru, dengan mengajukan pinjaman KTA melalui bank, nominal duit pinjaman bisa jadi lebih gede ketimbang duit dari non-bank

KTA adalah pinjaman yang bisa kita ambil tanpa memberikan jaminan. Berbeda halnya dengan kredit multiguna alias kredit dengan agunan. Pinjaman jenis ini mewajibkan penjaminan aset seperti rumah atau kendaran bermotor sebagai syarat meminjam duit.

Kalau masih ragu, yuk kita lihat perbandingan antara bank dan non-bank yang menyediakan KTA dalam hal kegiatan operasional:

Bank
– Bekerja secara kelembagaan

– Terikat dengan aturan pemerintah seperti Otoritas Jasa Keuangan

– Memiliki aturan resmi sebagai acuan syarat dan ketentuan kredit

Non-bank
– Bekerja secara perorangan

– Gak terikat dengan aturan keuangan dari pemerintah

– Bebas menentukan sendiri syarat dan ketentuan kredit

Hitam di atas putih musti jelas, biar gak ada dusta di antara kita, ceileee

Oke, walaupun bank lebih kredibel dalam hal kepastian hukum, pihak non-bank bisa juga sih jadi solusi alternatif saat kita butuh KTA. Namun melalui beberapa pertimbangan.

Contoh nih, saat sedang butuh duit dalam waktu sehari, bank menyatakan bisa ngasih duit dalam seminggu. Sementara non-bank bisa ngasih saat itu juga. Mau gak mau pilihan bisa dijatuhkan ke pihak non-bank dalam hal ini. Namun, ada beberapa hal yang harus benar-benar diperhatikan dalam perjanjian KTA dengan pihak non-bank. Apa saja tuh?

1. Batas pinjaman
Nominal KTA dari setiap bank pastinya berbeda-beda, biasanya mulai dari Rp 3 juta sampai dengan Rp 200 juta. Sedangkan non-bank biasanya gak sampai Rp 50 juta.

2. Cicilan berapa lama?
Semakin lama tenor pinjaman maka akan semakin besar total duit yang harus kita keluarkan untuk melunasi pinjaman plus bunganya. Jadi, jangan sampai cuma tergiur dengan tenor yang lama kalau gak mau kewalahan untuk melunasinya.

3. Bunganya
Dalam menetapkan bunga, semua bank resmi akan selalu mengacu pada aturan pemerintah. Kalau kita bersikap seenak udel, siap-siap saja dengan sanksi yang menanti. Beda halnya dengan pihak non-bank.

4. Biaya-biaya
Cermati biaya-biaya yang timbul, seperti provisi. Ada lho bank yang bebasin biaya provisi. Cari yang biayanya paling murah.

Sebelum memutuskan mengajukan, KTA yang kita ambil harusnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial. Hal yang gak kalah pentingnya, KTA tersebut juga harus disahkan dalam perjanjian yang gak merugikan salah satu pihak.

Uang di dompet gak pernah lebih dari 50 rebu eyaaaa musti tahu diri ya

Sementara pihak non-bank punya potensi lebih untuk bikin perjanjian yang berat sebelah. Awalnya mereka akan memberi kemudahan. Tapi, pas lihat kita lagi butuh banget, mulai deh mereka “bermain”. Lembaga itu bisa aja semena-mena menetapkan aturan kredit karena nggak terikat hukum pemerintah. Pastinya beda sama bank, yang kalau keliru dikit aja langsung kena tegur Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Cara mengajukan aplikasi kredit tanpa agunan ke bank juga mudah kok. Memang, butuh waktu lebih dari sehari untuk pencairan pinjaman. Tapi, ada baiknya sedikit lebih bersabar. Ketimbang buru-buru cari KTA malah kejebak rentenir.

Saking Ingin KTA Cepat Cair dan Prosesnya Gampang,Jadi Kejebak Lintah Darat

Sedang mencari kredit tanpa agunan (KTA)? Hati-hati, walau banyak pihak menawarkan bantuan pencairan KTA, tidak semuanya bisa dipercaya begitu saja. Jangan gara-gara ingin KTA cepat cair dan tidak ribet, malah jadi kejebak ‘lintah darat’.

KTA sejatinya adalah produk dari bank. Tapi ada juga pihak yang mengaku bisa memberikan KTA. Pihak-pihak tersebut biasanya menyebut diri sebagai perantara bank.

Sayangnya, tak semuanya kredibel. Bahkan ada juga yang mengklaim bisa mencairkan KTA hanya dengan syarat kita memberikan biodata lengkap atau menulis komentar status di Facebook. Tentu saja cara mendapatkan KTA tak sesederhana itu.

Sejumlah perusahaan pembiayaan atau individu juga menawarkan layanan KTA. Tapi syarat dan ketentuan KTA dari mereka berbeda dengan bank karena perusahaan semacam ini tidak diikat aturan resmi dari pemerintah.

KTA memang populer bagi orang-orang yang sedang membutuhkan dana tambahan dengan cepat dan simpel. Dengan adanya pilihan bank dan lembaga bukan bank yang memberi pinjaman, layanan ini bisa semakin mudah dijangkau.

Bagaimana tidak populer? KTA relatif lebih mudah dicairkan ketimbang pinjaman dengan jaminan. Yang paling menarik, kita sebagai peminjam atau debitur tidak perlu memberikan jaminan misalnya rumah, kendaraan, atau aset berharga lainnya untuk mendapat duit pinjaman!

Tapi ada satu hal yang perlu diingat, yakni kita tidak bisa sembarangan mencari KTA. Sebab KTA adalah utang yang berkaitan dengan kondisi keuangan kita. Bank adalah pihak yang paling bisa dipercaya sebagai penyedia KTA.

Syarat yang umumnya diberikan bank untuk mencairkan KTA antara lain:

1. KTP & KK
2. Akta nikah/cerai/kematian/perjanjian pranikah
3. NPWP / SPT
4. Rekening 3 bulan terakhir
5. Slip gaji karyawan/surat keterangan penghasilan

KTP dan KK merupakan dokumen persyaratan untuk berbagai produk bank, termasuk KTA (Pemutihan KK/Riau Kepri)
Kalau kamu sedang mencari KTA, sebaiknya jeli dalam memilih kreditur. Jika kini kamu sedang bingung apakah mencari KTA dari bank atau bukan bank, bandingkan hal-hal seputar KTA dari kedua pihak tersebut. Lihat perbandingannya berikut ini:

1. Plafon kredit
Plafon kredit adalah nilai maksimum pinjaman. Biasanya besaran KTA yang ditawarkan bank Rp 3-200 juta. Sedangkan plafon dari perusahaan pembiayaan atau individu lebih bervariasi karena tidak ada aturan khusus.

2. Tenor
Tenor adalah jangka waktu cicilan. Biasanya tenor sekitar 12-60 bulan baik dari bank maupun bukan bank. Bank umumnya akan melihat penghasilan kita untuk menentukan tenor serta plafon untuk memastikan kredit yang dikucurkan tidak macet atau mampu dilunasi.

3. Bunga
Setiap bank memiliki aturan tentang bunga KTA. Umumnya bunga bagi peminjam yang berstatus karyawan lebih kecil daripada yang wiraswasta. Selisihnya sekitar 0,2 persen.

Adapun perusahaan atau individu pembiayaan biasanya menerapkan bunga yang lebih tinggi daripada bank. Mereka ini lebih bebas menentukan bunga karena biasanya tidak terikat aturan tertentu. Berbeda dengan bank yang terikat pada aturan misalnya dari Bank Indonesia.

4. Provisi
Provisi dapat diartikan sebagai biaya administrasi. Biasanya bank menerapkan pengenaan biaya provisi tahunan. Ada bank yang membebaskan biaya provisi, tapi khusus untuk pinjaman Rp 50 juta ke atas.

Sedangkan besarnya biaya provisi dari perusahaan atau individu pembiayaan tergantung pada kebijakannya masing-masing. Kamu bisa menanyakan hal ini langsung jika memilih perusahaan pembiayaan sebagai penyedia KTA.

Kebiasaan buruk adalah ingin mendapatkan duit pinjaman dengan cepat dan tanpa proses yang ribet. Tapi tahu-tahu, malah kena jebakan rentenir! (Rentenir/Indonesia Panen)
Karena lebih bebas daripada bank dalam soal aturan formal, perusahaan pembiayaan atau individu pun cenderung menetapkan sendiri aturan main mereka. Bahkan ada yang nakal dengan menetapkan bunga yang tinggi sekali.

Selain itu, mekanisme pembayaran cicilan mereka pun beragam. Ada yang per bulan. Tapi ada pula yang dihitung per minggu, bahkan per hari.

Jika dibandingkan dengan bank yang memiliki aturan formal, tentu perusahaan atau individu pembiayaan lebih berisiko untuk dimintai pinjaman. Konsekuensi jika telat membayar cicilan dari mereka bisa berupa ancaman, bahkan tindak kekerasan dari debt collector.

Memang, daripada bank, perusahaan atau individu pembiayaan lebih cepat mencairkan KTA. Syaratnya pun lebih gampang. Tapi kita harus yakin benar bahwa pihak pemberi KTA bisa dipercaya sebelum menjatuhkan pilihan.

Bank lebih menjanjikan dalam hal layanan KTA karena ada hukum yang mengaturnya. Berbeda dengan pihak bukan bank yang bisa semena-mena dalam membuat aturan.

Terburu-buru ketika mencari KTA sangat tidak direkomendasikan. Lebih baik bersabar dan memilah-milah mana pemberi pinjaman yang paling pas dengan kebutuhan dan dapat dipercaya.

Dengan begitu, KTA dapat kita manfaatkan dengan baik dan cicilan bisa dilunasi tanpa masalah. Syukur-syukur pinjaman tersebut bisa kita putar sehingga menghasilkan dana lebih yang bisa kita tabung.

Waspadai Jeratan Koruptor dan Rentenir Saat Mengajukan Kredit UKM

Dua praktek negatif yang masih kerap ditemui di Indonesia adalah korupsi dan peminjaman uang tidak resmi dengan bunga melilit ala rentenir. Kedua hal tersebut harus diwaspadai ketika kita hendak mengajukan kredit atau pinjaman, terutama kredit usaha kecil-menengah (UKM).

Tentu kita tak mau kredit UKM yang sedianya akan digunakan untuk membangun usaha sendiri malah membuat kita terlibat masalah. Karena itu, mewaspadai rentenir dan koruptor dari bank wajib hukumnya.

Berikut ini contoh kasus rentenir dan koruptor seputar kredit yang pernah mencuat di media massa dan patut kita waspadai:

1. Makelar KUR
Di Jombang, pencairan kredit usaha rakyat (KUR) pada periode 2011-2012 diduga bermasalah karena ada pihak yang diduga sebagai makelar. Pihak tersebut adalah anggota DPRD setempat serta pengusaha. Bahkan ada dugaan mereka bermain mata dengan pegawai bank yang menyalurkan KUR.

Waspadai orang yang berdalih membantu pencairan KUR tapi ternyata mau nilep

Ceritanya, sejumlah warga yang kesulitan mengajukan KUR meminta bantuan anggota Dewan. Singkat cerita, si legislator berhasil menembuskan proposal KUR warga ke bank. Namun dana yang didapat warga disunat.

Seorang warga yang mendapat kucuran Rp 500 juta hanya menerima Rp 40 juta. Yang Rp 460 juta diduga dibagi-bagi oleh pihak yang menjadi makelar pencairan kredit itu. Hal ini menjadi masalah sebab bank mencatat utang KUR warga tersebut Rp 500 juta, sehingga duit sejumlah itu mau tak mau harus dilunasi.

2. Oknum Bank
Di Surabaya, kasus kredit melibatkan orang dalam bank. Tak tanggung-tanggung, tiga oknum bank milik pemerintah menjadi tersangka kasus ini. Penerima kredit atau debitur juga ikut terseret sebagai tersangka.

Bank pun bisa dibobol pegawainya sendiri

Kasus ini bermula dari kredit macet sebuah perusahaan. Bos perusahaan itu sebelumnya mengajukan kredit dengan memberikan sejumlah aset sebagai jaminan.

Ketika perusahaan itu gagal membayar kredit, tiga oknum bank diduga menyalahgunakan wewenang dengan menjual aset jaminan tersebut. Walau ada surat persetujuan penjualan aset dari bank, tidak ada jaminan pengganti. Akhirnya, penjualan itu dianggap bermasalah.

3. Korupsi KUR
Di Jambi, seorang bekas kepala unit bank dijadikan tersangka korupsi dana KUR yang merugikan negara Rp 4 miliar. Kepolisian bahkan menduga pelaku kejahatan tersebut tak hanya satu orang.

Koruptor kredit usaha rakyat masih saja ada walau sudah banyak yang ditangkap

Modusnya adalah dia menggunakan identitas fiktif untuk mengajukan kredit usaha. Selain itu, dia menilep duit cicilan yang dibayar peminjam.

Kepolisian yang hendak memeriksa 150 nasabah terkait mendapati 31 nasabah ternyata fiktif. Artinya, 119 nasabah rugi karena duit angsuran kredit mereka diduga digondol si tersangka.

4. Adu Jotos dengan Rentenir
Di Bandung, seorang warga harus berhadapan dengan pengadilan hanya gara-gara tak bisa membayar cicilan Rp 5 ribu per hari kepada rentenir. Tidak seperti bank, rentenir meminjamkan duit tanpa aturan jelas. Cicilannya bisa dibayar per hari, dan bunganya pun bisa sangat mencekik.

Rentenir bisa bertindak semena-mena karena tidak terikat aturan keuangan pemerintah
Warga Bandung ini mulanya lancar membayar utangnya, tapi lalu menemui kesulitan. Akhirnya si rentenir mendatangi rumahnya dan mereka terlibat adu jotos. Tak terima, rentenir itu kemudian melaporkan warga Bandung tersebut ke polisi atas tuduhan penganiayaan.

Walhasil, tak hanya harus melunasi utangnya, dia juga menghadapi tuntutan penjara dan denda. Ini akan berbeda jika dia meminjam dari bank, yang bisa menegosiasikan segala masalah pembayaran kredit tanpa lewat kontak fisik.

5. Terjerat 70 Rentenir
Di Bantul, Yogyakarta, seorang ibu terjerat utang 70 rentenir. Awalnya dia hanya berutang ke satu rentenir. Tapi, karena tak bisa membayar, dia terbujuk rentenir lain untuk meminjam duit darinya guna melunasi utang ke rentenir sebelumnya.

Sekali berutang kepada rentenir, potensi terjerat sangat besar

Tak disangka, praktek utang dari satu rentenir ke rentenir lain ini terus berlangsung sampai rentenir ke 70. Yang memprihatinkan, para rentenir itu tinggal di sekitar desa ibu tersebut. Si ibu itu mengatakan seorang rentenir akan merekomendasikan rentenir lain saat dia mengaku tak bisa melunasi utang kepada rentenir tersebut.

Kini, setiap hari rumahnya didatangi rentenir yang hendak menagih utang. Bisa dibayangkan kengerian yang dihadapi keluarga ibu itu setiap hari.

Ketika akan mengajukan kredit UKM, kita wajib tahu seluk-beluk pihak yang akan kita mintai pinjaman. Setidaknya kita bisa meminta rekomendasi kenalan atau keluarga yang punya pengalaman meminjam di tempat tersebut.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai